Teologi tanpa moral adalah penghianatan kepada Tuhan

Jakarta, 21 Februari 2018. Ibadah Chapel STT Bethel Indonesia minggu ini adalah edisi Pembinaan Karakter oleh Dr. Erastus Sabdono. Ibadah kali ini diikutin dengan sangat baik dan antusias, bukan hanya dihadiri oleh Mahasiswa, dosen dan staf STT Bethel Indonesia tetapi juga di hadiri oleh murid-murid dari Sekolah Penginjil (SP) yang.

Pada sesi ini Dr. Erastus Sabdono membahas tentang “TEOLOGI TANPA MORAL ADALAH PENGHIANATAN TERHADAP ALLAH”. Pennyampaian yang mendalam tentang bagaimana menjadi hamba Tuhan yang bermoral yang sesuai dengan standar Allah, bukan hanya berteologi saja, dan juga iman yang menyelamatkan butuh proses agar menjadi orang bukan hanya dinyatakan benar walapun belum benar tetapi sepenuhnya menjadi orang benar, berikut sedikit penjelasan dari Dr. Erastus Sabdono:

Teologi tanpa moral adalah penghianatan kepada Tuhan, tetapi moral di sini adalah moral yang sesuai standar Allah. Moral ini adalah dalam kesucian berpikir, prilaku, sikap kita terhadap lawan jenis dan dunia ini.
Jika kita masih bisa dibahagiakan dengan fasilitas dunia, itu artinya moral kita rendah.
Perjalanan untuk memiliki moral yang baik atau moral yang sempurna adalah tidak mudah, tentu harus harus melalui level kebaikan dan stadium-stadium kebaikan berikutnya.
Landasan penting :
Kesalahan fatal orang Kristen adalah mengenai dibenarkan oleh iman. Banyak yang memandang bahwa dibenarkan oleh iman adalah sebagai cara untuk masuk ke dalam Sorga. Dalam pemikiran mereka bahwa karunia dan anugerah adalah gratis, dengan nalar dan pikiran menyatakan Tuhan Yesus adalah juru selamat maka pasti dibenarkan dan diselamatkan dan itu adalah final.
Pembenaran oleh iman dirasa cukup untuk membuat manusia menjadi santun, tetapi pada pertengahan abad 20 hingga abad 21 dengan pola kekristenan seperti itu justru tidak mampu menghadapi tantangan zaman dan pengaruh dunia yang jahat.
Dibenarkan oleh iman itu adalah satu-satunya pola untuk memperoleh keselamatan, kesalahannya adalah di kata dibenarkan bukan hanya berarti dianggap benar, tetapi artinya adalah diterima kembali oleh Allah wala pun masih bisa berbuat salah dalam arti masih belum benar, bukan berarti menjadi orang benar, karena belum memenuhi standar Allah. Bila dikatakan belum benar berarti ada panggilan yang harus dipenuhi untuk menjadi benar sesuai dengan standar Allah, mencapai standar itu harus melalui proses untuk hidup suci, jika sudah benar maka harusnya tidak boleh berbuat salah lagi.
Demikian sedikit ulasan dari Dr. Erastus Sabdono mengenai topik Firman Tuhan dalam sesi pertama tahun ini, Firman Tuhan ini disambut dengan sangat baik oleh para Mahasiswa dan setiap orang yang hadir dalam Chapel.
Pada akhir sesi Dr. Erastus Sabdono mengajak setiap Mahasiswa untuk berkomitmen dan mengambil keputusan untuk berubah, bukan hanya hanyut dalam eforia perayaan Grejawi tetapi juga perubahan yang nyata dalam kehidupan mengejar kesempurnaan, dilanjutkan dengan doa penutup oleh Dr. Apin Militia Christi dan Doa berkat oleh Ibu Ivonne Sandra S., M.Th. Demikian rangkaian kegiatan Chapel edisi 21 Februari 2018, Tuhan Yesus Memberkati.

 

 

Kembali